Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Agama. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Januari 2021

At Tawazuun

 

Manusia diciptakan Allah dalam keadaan fitrah yang bersifat hanif kepada Islam. Salah

satu sifat fitrah itu adalah menjaga keseimbangan antara ruh, akal dan jasad.

Keperluan jasad adalah makan, istirahat dan olah raga. Memenuhi keperluan jasad

berarti menyeimbangkan konsumsi jasad agar tidak sakit. Keperluan akal adalah ilmu.

Memenuhi keperluan akal berarti menuntut ilmu agar tidak bodoh dan merugi. Sedangkan

keperluan ruh adalah dzikrullah.

Ketiganya harus dikelola sescara seimbang agar mendapatkan kenikmatan lahir dan

batin.

 

Hasiyah :

¨  Fitrah hanif

Allah swt menciptakan manusia secara fitrah dan diberikan kecenderungan yang hanif kepada

sesuatu yang baik, sehingga dapat menilai mana yang baik dan man yang buruk khususnya

kepada nilai-nilai yang universal. Fitrah sedemikian ini perlu dijaga dan jangan sampai

tertutup kepada maksiat dan dosa sehingga firahnya tak lagi berfungsi dengan baik dalam

menilai.

Dalil : manusia fitrah (QS. 30 : 30, 7 : 712, 75 : 14) lurus (QS. 30 : 30)

¨  Tawazun

Allah swt menciptakan alam tanpa ada satupun yang tidak seimbang (tidak proporsional).

Keseimbangan manusia adalah proporsionalnya konsumsi dan fungsi ruh, akal dan jasad.

Dalil : seimbang (QS. 55 : 7, 9)

¨  Jasad

 

Manusia diperintahkan mengkonsumsi makanan yang baik yang dibutuhkan jasad dan menjauhi

makanan yang haram dan merusak jasad. Arahan ini adalah agar jasad dapat difungsikan

dengan optimal bagi ibadah.

Dalil : gizi tubuh, makanan dan kesehatan (QS. 2 : 168)

¨  Akal

Allah swt menyuruh kita untuk mendayagunakan akal fikiran untuk :

merespon ilham dari peristiwa alam

mendekatkan diri kepada Allah

Dalil : akal, gizi akal, ilmu (QS. 96 : 1, 55 : 1-4)

¨  Ruh

Ketenteraman dan kedamaian ruh adalah hasil dari mengkonsumsi gizi ruh : dzikrullah.

Dalil : ruh, gizi ruh, dzikrullah (QS. 73 : 1-20, 13 : 28, 3 : 191)

¨  Nikmat

Terpenuhinya konsumsi ketiga hal tersebut bagi manusia menakibatkan hadirnya kenikmatan

zhahir dan batin Dalil : dengan terpenuhinya konsumis ketiganya akan didapat nikmat zhahir

dan batin (QS. 31 : 20).

NATAIJUL IBADAH (Pengaruh Positif Ibadah)

 

Ibadah yang benar (al-ibadatus salimah) akan membawa pengaruh-pengaruh yang positif pada jiwa kita.

 

Pertama, semakin teguhnya keimanan (al-iman).

Allah SWT menyeru kita untuk selalu istiqamah menjaga keimanan. Dia berfirman,

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ

 

    “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya…” (QS. An-Nisa, 4: 136)

 

Kedua, semakin kuatnya penyerahan diri dan ketundukkan kita kepada Allah SWT. (al-Islam).

Di saat kita melakukan ibadah, hakikatnya, saat itu kita sedang melakukan kristalisasi kesadaran diri terhadap keagungan Allah SWT.

 

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

 

    “Jagalah Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah Allah maka kamu akan mendapati-Nya dihadapanmu“ (HR at-Tirmidzi no. 2516, Ahmad [1/293] dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “Shahihul jaami’ish shagiir” no. 7957).

 

Makna “menjaga Allah” adalah menunaikan hak-hak-Nya dengan selalu beribadah kepadanya, serta menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

 

Ketiga, memperkokoh ihsan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang apa itu ihsan.

 

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

 

    “Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihatNya; jika kamu tidak dapat melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari-Muslim)

 

Maka jika kita beribadah kepada Allah -seraya terus berupaya memperbaikinya sehingga menjadi ibadah yang benar- akan semakin kuatlah ihsan kita, dalam arti semakin kokohnya kesadaran akan muraqabatullah (pengawasan Allah) dalam diri.

 

Keempat, meneguhkan tawakkal kepada-Nya.

 

Allah Ta’ala berfirman,

 

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

 

    “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Thalaq, 65 : 3)

 

Mengenai tawakkal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

 

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ ، تَغدُوْ خِمَاصًا ، وتَرُوْحُ بِطَانًا

 

     “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sungguh-sungguh tawakkal kepada-Nya, sungguh kalian akan diberikan rizki oleh Allah sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung. Pagi hari burung tersebut keluar dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad)

 

Nah itulah beberapa pengaruh positif ibadah sebenarnya masih banyak lagi pengaruh positifnya. Oleh karena itu lah kita harus senantiasa beribadah kepada Allah agar kita dimudahkan dalam kehidupan kita baik di dunia maupun akhirat. Semoga bermanfaat. Mataaa-.

 

PENGERTIAN HAKIKAT DAN FUNGSI IBADAH

 

  • Pengertian Ibadah

Ibadah secara etimologi berasal dari kata bahasa Arab yaitu “abida-ya’budu-‘abdan-‘ibaadatan” yang berarti taat, tunduk, patuh dan merendahkan diri. Seseorang yang tunduk, patuh dan merendahkan diri dihadapan yang disembah disebut “abid” (yang beribadah).

Kemudian pengertian ibadah secara terminologi atau secara istilah adalah sebagai berikut:

 

    1. Menurut ulama tauhid dan hadis ibadah yaitu:

       "Mengesakan dan mengagungkan Allah sepenuhnya serta menghinakan diri dan menundukkan jiwa kepada-Nya". Selanjutnya mereka mengatakan bahwa ibadah itu  sama dengan tauhid. Krimah salah seorang ahli hadits mengatakan bahwa segala lafadz ibadah dalam Al-Qur’an diartikan dengan tauhid.

 

    2. Para ahli di bidang akhlak mendefinisikan ibadah sebagai berikut:

       "Mengerjakan segala bentuk ketaatan badaniyah dan melaksanakan segala bentuk syari’at." 

       "Akhlak" dan segala tugas hidup (kewajiban-kewajiban) yang diwajibkan atas pribadi,baik yang berhubungan dengan diri sendiri, keluarga maupun masyarakat, termasuk kedalam pengertian ibadah, seperti Nabi SAW bersabda yang artinya:

        “Memandang ibu bapak karena cinta kita kepadanya adalah ibadah” (HR Al-Suyuthi).

          Nabi SAW juga bersabda: “Ibadah itu sepuluh bagian, Sembilan bagian dari padanya  terletak dalam mencari harta yang halal.” (HR Al-Suyuthi).

  • Hakikat Ibadah

    Tujuan diciptakannya manusia di muka bumi ini yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT. Ibadah dalam pengertian yang komprehensif menurut Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah adalah sebuah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah SWT berupa perkataan atau perbuatan baik amalan batin ataupun yang dhahir (nyata). Adapun hakekat ibadah yaitu: 

 

1) Ibadah adalah tujuan hidup kita. Seperti yang terdapat dalam surat Adz-dzariat ayat 56, yang menunjukan tugas kita sebagai manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. 

2) Hakikat ibadah itu adalah melaksanakan apa yang Allah cintai dan ridhai dengan penuh ketundukan dan perendahan diri kepada Allah.

3) Ibadah akan terwujud dengan cara melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.

4) Hakikat ibadah sebagai cinta.

5) Jihad di jalan Allah (berusaha sekuat tenaga untuk meraih segala sesuatu yang dicintai Allah).

6) Takut, maksudnya tidak merasakan sedikitpun ketakutan kepada segala bentuk dan jenis makhluk melebihi ketakutannya kepada Allah SWT.

 

  • Fungsi Ibadah

    Setiap muslim tidak hanya dituntut untuk beriman, tetapi juga dituntut untuk beramal sholeh. Karena Islam adalah agama amal, bukan hanya keyakinan. Ia tidak hanya terpaku pada keimanan semata, melainkan juga pada amal perbuatan yang nyata. Islam adalah agama yang dinamis dan menyeluruh. Dalam Islam, Keimanan harus diwujudkan dalam bentuk amal yang nyata, yaitu amal sholeh yang dilakukan karena Allah.  

 

    Ibadah dalam Islam tidak hanya bertujuan untuk mewujudkan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, tetapi juga untuk mewujudkan hubungan antar sesama manusia. Islam mendorong manusia untuk beribadah kepada Allah SWT dalam semua aspek kehidupan dan aktifitas. Baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari masyarakat.

 

PERILAKU KONSUMEN By Muhammad Faisal

  PERILAKU KONSUMEN Diajukan dalam rangka tugas Evaluasi Tengan Semester mata kuliah Perilaku Konsumen Dosen Pengampu : Pulze Pulung...